Universitas Harapan Bangsa menyelenggarakan Objective Structured Clinical Examination atau OSCE Nasional Apoteker pada 7 hingga 8 Maret 2026 di Laboratorium OSCE Terpadu Kampus 1 UHB. Ujian kompetensi ini diikuti oleh peserta Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker sebagai bagian dari evaluasi nasional untuk mengukur kesiapan calon apoteker dalam praktik pelayanan kefarmasian profesional. Kegiatan ini dilaksanakan melalui serangkaian simulasi klinis terstruktur yang menilai kemampuan komunikasi, pengambilan keputusan, serta keterampilan klinis peserta dalam berbagai skenario pelayanan kesehatan.
Pelaksanaan OSCE Nasional Apoteker merupakan salah satu tahapan penting dalam memastikan bahwa lulusan profesi apoteker memiliki standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan modern. Melalui metode penilaian berbasis stasiun yang terstandar, peserta diuji dalam berbagai situasi yang merepresentasikan praktik nyata di fasilitas kesehatan. Pengujian ini tidak hanya menilai pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan klinis, etika profesi, dan kemampuan interaksi dengan pasien.
Rektor Universitas Harapan Bangsa, Assoc. Prof. Dr. Yuris Tri Naili, S.H., KN., M.H., menilai pelaksanaan OSCE Nasional Apoteker menjadi bagian penting dari komitmen perguruan tinggi dalam memastikan mutu lulusan yang siap berkontribusi bagi masyarakat. Ia menyampaikan bahwa evaluasi kompetensi profesi kesehatan harus dilakukan secara objektif dan terstandar agar lulusan memiliki kualitas yang mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan masa kini.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi dunia pendidikan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa penguatan kompetensi tenaga kesehatan yang profesional dan berintegritas sejalan dengan upaya global dalam mewujudkan layanan kesehatan yang berkualitas sebagaimana tercermin dalam agenda Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan kesejahteraan.
Koordinator OSCE, apt. Fauziah, M.Sc., menjelaskan bahwa pelaksanaan OSCE dirancang dengan sistem evaluasi yang ketat dan objektif agar seluruh peserta mendapatkan penilaian yang adil. Ia mengatakan bahwa setiap peserta akan melewati beberapa stasiun ujian yang mensimulasikan kondisi nyata pelayanan kefarmasian, mulai dari komunikasi dengan pasien, analisis resep, hingga pemberian rekomendasi terapi.
Ia menambahkan bahwa pendekatan simulasi klinis ini membantu memastikan bahwa calon apoteker tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan secara tepat dalam situasi praktik profesional. Menurutnya, sistem penilaian berbasis OSCE telah menjadi standar internasional dalam pendidikan tenaga kesehatan karena mampu mengukur kompetensi secara komprehensif.
Laboratorium OSCE Terpadu di Kampus 1 Universitas Harapan Bangsa dirancang untuk mendukung proses evaluasi kompetensi profesi kesehatan secara modern dan terstandar. Fasilitas ini memungkinkan proses simulasi klinis dilakukan secara sistematis dengan skenario pelayanan yang mendekati kondisi nyata di fasilitas kesehatan.
Melalui pelaksanaan OSCE Nasional Apoteker ini, Universitas Harapan Bangsa terus memperkuat perannya dalam menghasilkan lulusan profesi kesehatan yang kompeten, beretika, dan siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan profesi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan nasional maupun standar global.