Kemahasiswaan & Alumni UHB

Mahasiswa Universitas Harapan Bangsa Hadirkan “The Grace of Bali”, Wujud Nyata Pelestarian Budaya Nusantara Melalui Pentas Seni Tradisional

Bagikan :

Purwokerto, 23 Mei 2026 – Semangat melestarikan budaya Nusantara terus ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Harapan Bangsa (UHB). Melalui kegiatan pentas seni bertajuk “The Grace of Bali: Melestarikan Nilai, Menguatkan Identitas, Menghubungkan Generasi”, mahasiswa Kelompok 13 Mata Kuliah Karakter Mandiri dan Berbudaya berhasil menghadirkan pertunjukan budaya Bali yang memukau di Kampus 1 Universitas Harapan Bangsa. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian budaya Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang semakin pesat. Di era modern saat ini, budaya asing semakin mudah diakses dan memengaruhi kehidupan generasi muda. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk terus memperkenalkan dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa. Melalui pertunjukan seni ini, mahasiswa Universitas Harapan Bangsa berupaya menunjukkan bahwa budaya tradisional tetap memiliki daya tarik yang kuat apabila dikemas secara kreatif, edukatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, mulai pukul 19.30 WIB, merupakan implementasi pembelajaran Mata Kuliah Karakter Mandiri dan Berbudaya di bawah bimbingan Tri Pujiani, M.Pd. Mengangkat kekayaan seni tradisional Bali, mahasiswa menampilkan dua tarian ikonik, yakni Tari Jangger dan Tari Kecak, yang tidak hanya dikenal sebagai hiburan, tetapi juga sarat akan nilai sejarah, filosofi, kebersamaan, serta identitas budaya masyarakat Bali.

Persiapan kegiatan dilakukan secara bertahap sejak awal Mei 2026. Seluruh anggota Kelompok 13 terlibat aktif dalam berbagai tahapan, mulai dari pembagian tugas, penyusunan konsep pertunjukan, pencarian referensi mengenai budaya Bali, latihan tari secara rutin, persiapan kostum dan tata rias, hingga gladi kotor serta gladi bersih menjelang hari pelaksanaan. Seluruh proses tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, serta mengelola sebuah kegiatan budaya secara profesional. Sebelum pertunjukan dimulai, acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar. Selanjutnya, para penonton diberikan penjelasan singkat mengenai sejarah, asal-usul, serta makna yang terkandung dalam Tari Jangger dan Tari Kecak. Penyampaian materi ini bertujuan agar penonton tidak hanya menikmati pertunjukan dari sisi estetika, tetapi juga memahami nilainilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali. Penampilan pertama dibuka dengan Tari Jangger, sebuah tarian pergaulan tradisional Bali yang menggambarkan semangat kebersamaan, persahabatan, dan keceriaan para muda-mudi. Gerakan yang harmonis dipadukan dengan alunan musik gamelan Bali menciptakan suasana yang meriah sekaligus menunjukkan keindahan seni tari tradisional Indonesia. Kostum adat Bali yang dikenakan para penari serta tata rias yang autentik semakin memperkuat nuansa budaya yang dihadirkan di atas panggung.

Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan Tari Kecak, salah satu ikon budaya Bali yang telah dikenal hingga mancanegara. Berbeda dengan tarian lainnya, Tari Kecak tidak menggunakan alat musik sebagai pengiring utama, melainkan mengandalkan lantunan suara “cak… cak… cak…” yang diucapkan secara serempak oleh para penari. Iringan vokal khas tersebut dipadukan dengan gerakan yang kompak berhasil menciptakan suasana pertunjukan yang megah dan memukau. Tari ini mengangkat kisah Ramayana yang sarat akan pesan moral mengenai keberanian, kesetiaan, kerja sama, serta kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Pertunjukan berlangsung di area panggung terbuka Universitas Harapan Bangsa yang ditata dengan nuansa budaya Bali. Tari Jangger ditampilkan di panggung utama dengan iringan musik gamelan Bali yang dinamis, sedangkan Tari Kecak dipentaskan dalam formasi melingkar khas yang menghadirkan suasana pertunjukan yang autentik. Tata cahaya, sistem suara, serta penataan panggung yang sederhana namun menarik berhasil mendukung jalannya acara sehingga penonton dapat menikmati setiap penampilan dengan nyaman. Sejak awal hingga akhir acara, antusiasme penonton terlihat begitu tinggi. Setiap penampilan mendapatkan sambutan hangat berupa tepuk tangan meriah sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha dan dedikasi para mahasiswa. Suasana menjadi semakin hidup ketika seluruh penari menampilkan gerakan yang penuh semangat, kekompakan, dan penghayatan, sehingga mampu menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan edukasi kepada para penonton. Seluruh anggota Kelompok 13 Berbudaya berpartisipasi sebagai penari dalam pertunjukan ini. Selain tampil di atas panggung, mereka juga bekerja sama dalam berbagai bidang lain, seperti dokumentasi, perlengkapan, tata rias, hingga teknis pelaksanaan. Sinergi yang terjalin selama proses persiapan hingga pelaksanaan menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya ditentukan oleh penampilan di atas panggung, tetapi juga oleh kerja sama seluruh tim di balik layar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Harapan Bangsa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai seni dan budaya Bali, tetapi juga mengembangkan berbagai keterampilan penting, seperti kepemimpinan, manajemen waktu, komunikasi, kreativitas, serta kemampuan menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tujuan Mata Kuliah Karakter Mandiri dan Berbudaya yang mendorong mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, sekaligus memiliki kepedulian terhadap budaya bangsa. Keberhasilan penyelenggaraan The Grace of Bali menjadi bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati generasi muda. Dengan penyajian yang menarik dan dikemas secara kreatif, seni tradisional mampu menjadi media edukasi sekaligus hiburan yang relevan dengan perkembangan zaman. Dokumentasi berupa foto dan video yang dihasilkan selama kegiatan juga diharapkan dapat menjadi media promosi budaya agar semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mencintai warisan budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Universitas Harapan Bangsa berharap dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas nasional. The Grace of Bali bukan sekadar sebuah pentas seni, melainkan wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menjaga keberlangsungan budaya Nusantara. Dengan mengenal, memahami, dan menampilkan budaya Indonesia, generasi muda turut mengambil peran dalam menghubungkan nilai-nilai luhur warisan leluhur kepada generasi masa depan. Di tengah dunia yang terus berkembang, budaya merupakan identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, semangat “Melestarikan Nilai, Menguatkan Identitas, Menghubungkan Generasi” diharapkan terus hidup dan menginspirasi mahasiswa serta masyarakat untuk bersama-sama menjaga kekayaan budaya Indonesia. Sebab, budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan fondasi yang akan memperkuat jati diri bangsa di masa depan.